Welcome to ACI Official Site!|Friday, August 23, 2019
You are here: Home » Publications » Kolom Edukasi Persaingan Usaha di Harian Bisnis Indonesia Edisi Oktober 2015

Kolom Edukasi Persaingan Usaha di Harian Bisnis Indonesia Edisi Oktober 2015 

Persaingan Usaha Sektor Telekomunikasi Di Era Digital

Ditulis Oleh : Rolly R Purnomo

koled-oktober-2015

Download PDF

Telekomunikasi merupakan sektor dengan pertumbuhan PDB yang tinggi. Lapangan usaha komunikasi dan informasi selalu tumbuh di atas 10 persen dengan kontribusi terhadap PDB yang juga terus meningkat dan mencapai 4,79 persen pada semester I tahun 2015. Selanjutnya, deflator PDB komunikasi dan informasi yang menurun merupakan indikasi penurunan rata-rata harga di sektor tersebut.

Peningkatan persaingan diyakini mempunyai kontribusi dengan cukup berarti bagi pencapaian tersebut. Namun, ketika memasuki era digital pola persaingan mulai mengalami perubahan. Perubahan ini perlu dicermati agar iklim persaingan di sektor telekomunikasi tetap kondusif.

Isu Persaingan Usaha Pra Era Digital

Literatur umumnya menyimpulkan perilaku penyelenggara telekomunikasi (operator) dalam kompetisi akan tergantung dari struktur akses yang dihadapi, yaitu apakah dalam struktur one-way access dan two-way access. Dalam hal ini operator dibedakan atas operator jaringan yang memiliki akses langsung ke pelanggan dan operator jasa yang untuk dapat menjangkau pelanggannya membutuhkan akses ke operator jaringan.

Contoh struktur one-way access adalah hubungan antara operator jasa dan operator jaringan. Operator jaringan yang juga bertindak sebagai selaku operator jasa (terintegrasi vertikal) dalam bersaing dengan operator jasa independen cenderung menerapkan strategi exclusionary dengan tidak memberikan akses atau menetapkan biaya akses yang tinggi bagi pesaingnya.

Sedangkan contoh struktur two-way access adalah hubungan antar dua atau lebih operator jaringan yang bersaing. Operator jaringan tersebut saling membutuhkan akses dengan sesamanya agar pelanggannya dapat terhubung. Operator jaringan yang mempunyai kekuatan seimbang cenderung untuk berkolusi yang berujung pada tarif ritel yang tinggi.

Isu Persaingan Usaha Pada Era Digital

GSMA (asosiasi operator seluler dunia) dalam publikasi terbarunya di bulan Oktober 2015 yang berjudul ‘Competition Policy in the Digital Age: A Practical Handbook’ mengindikasikan 4 perubahan tren dalam telekomunikasi.

Pertama, terjadinya konvergensi layanan telekomunikasi tetap, seluler dan media yang mendorong berkembangnya produk yang ditawarkan secara bundling.

Kedua, perkembangan aplikasi internet akan membendung integrasi vertikal antara layanan jaringan dan jasa. Saat ini, aplikasi internet seperti WhatsApp, Facebook, dan Skype sudah mampu memberikan layanan yang serupa dengan jasa telekomunikasi seperti teleponi dan sms. Aplikasi internet ini dikenal dengan istilah over the top (OTT).

Ketiga, trafik data akan meningkat tajam mengingat semua informasi baik itu suara, gambar dan teks akan diubah dalam bentuk data digital.

Terakhir, data pelanggan/pengguna aplikasi mempunyai nilai strategis bagi OTT.

OTT yang beroperasi di lapisan aplikasi atau konten yang memanfaatkan infrastruktur mulai menjadi pesaing langsung operator jaringan. Hubungan antara OTT dan penyelenggara jaringan ini sebenarnya mirip dengan struktur one-way access. Namun, perubahan tren tersebut ternyata membuat posisi OTT kuat.

Selain itu, OTT juga berada pada posisi yang menguntungkan karena regulasi yang mengaturnya lebih lunak dibanding operator jaringan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika OTT dapat memanfaatkan informasi/data penggunanya untuk mendapatkan penghasilan.

Operator jaringan telekomunikasi tentu mengeluhkan kondisi persaingan yang tidak seimbang ini. Investasi besar justru dinikmati hasilnya oleh para OTT. Oleh karena itu, mereka menuntut perlakuan yang sama bagi OTT atau setidaknya mendapatkan bagian dari pendapatan OTT.

Langkah Selanjutnya

Perubahan kondisi pasar tersebut tentunya menuntut pemikiran ulang terhadap analisis persaingan yang selama ini digunakan khususnya terkait dengan penentuan pasar bersangkutan (relevant market). Apakah produk yang ditawarkan oleh operator telekomunikasi dan OTT dapat dianggap sebagai produk yang sama, sejenis atau saling bersubstitusi?

Hal ini tentunya akan berimplikasi terhadap analisis pangsa pasar, kekuatan pasar (market power) di pasar bersangkutan tersebut serta penentuan pelaku usaha yang memiliki significant market power (SMP) yang perlu diregulasi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Prof Ian Lloyd dari GSMA menyarankan perlunya kolaborasi antara otoritas persaingan usaha dan regulator sektor untuk membahas permasalahan ini.

Related posts:

Add a Comment